Popular Posts

Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Dec 6, 2013

Untitled

 scroll down for English..


Dalam karya ini saya berkolaborasi dengan Isa Perkasa. Kami membicarakan masalah lingkungan. Bagaimana kami sebagai manusia, setiap hari menyumbangkan sesuatu yang dapat membahayakan tempat yang kita tinggali. Selain itu kami juga membicarakan beberapa prilaku antar manusia, misalnya mengambil jalan selamat masing-masing, tanpa mempedulikan –bahkan terkadang merugikan—manusia lain.

In this pieces I'm Isa Perkasa collaborators. We talking about environmental issues. How do we do as human beings, how we everyday donating objects that can harm the place we are living. In the other hand we also talks about some of human behaviour, for example, taking their individually path to survive, regardless of –sometimes even harming—another human being.
 

Dalam performans ini kami berjalan sepanjang jalan Ir. H. Juanda, mengenakan pakaian tahan air warna oranye dengan tanda (+) dan (-) dipunggung. Sepanjang jalan Isa Perkasa menyemprotkan pengharum ruangan dan saya membawa bola dunia.
In this performance we were walking along the Ir. H. Juanda street, wearing orange water resistant cloth with a sign (+) and (-) in our backs. Along the way Isa Perkasa spraying air freshener and I brought a globe.



Dago Festival #1
Jl. Ir H Juanda, Bandung
September 28th, 2002

 

Jan 23, 2011

COSMOPOLITAN

scroll down for english..

Orang Indonesia meninggalkan budaya tradisi, kemudian bangsa lain menelaah budaya tradisi Indonesia. Kini orang Indonesia memilih bergaya MTV dan minum Cocacola. Sementara bangsa lain memproduksi motif batik, belajar gamelan, dan mengekspor teh serta ramuan herbal Indonesia.

A lot of Indonesian don't want to know the traditional culture, but others learn/observe/research our traditional culture. Indonesian chose the MTV-style and drink Coca cola. While other nations produce batik, studying gamelan, and exporting tea and herbal of Indonesia.
As a collaborator of Isa Perkasa concept
Sundanese Festival
Dago Tea House
Bandung, 2002

Apr 12, 2010

Ironic #01




Adalah sebuah performans berdurasi 15 menit. Diawali dengan masuk ke area performans mengenakan gaun putih panjang, meletakan baskom kaleng, dimana didalam kaleng sudah ada 5 potongan gambar dari tabloid porno. Kemudian menuang 5 liter cairan merah (darah buatan) kedalamnya. Setelahnya duduk diatas baskom, mengeluarkan gambar porno satu persatu. Posisi ngangkang, layaknya seorang ibu ketika melahirkan. Setelahnya masing-masing gambar di pampang pada seutas tali, menggunakan jepit, seperti menjemur pakaian, dijepit agar tidak terbang terbawa angin. Posisi melahirkan dan memampang gambar pada tali dilakukan berulang, sampai 5 kali. Sampai seluruh gambar dalam baskom terpampang. Kemudian saya meninggalkan ruang performans sambil membawa baskom tersebut. 

Thisis is 15 minutes performance. I enter the performance space wearing a long white gown, put the tin basin where there's 5 sheets of image from pornographic tabloid inside. After I pour 5 litres red fluid (as artificial blood) into it. Afterwards sit over the basin, in a position as a mother when giving a birth. After I took one of the sheet, hanging it in the stretch rope, clamp it as in the old style of drying clothes. Clamped it so not fly and disappear when the winds blow. I repeated the same act, until all the images is hanged. Then I left the performance space carrying the basin.


Kisah fiksi menjadi pantulan atas Ironic#01. Tentang seorang ibu yang melahirkan anak perempuannya, berdoa agar kelak dia menjadi seseorang yang sesuai dengan dogma yang berlaku di masyarakat. Ketika anaknya dewasa, dia memutuskan menjadi model tabloid porno picisan. Dalam benak perempuan ini dia memiliki posisi yang berarti, tubuhnya dinikmati sebagai sesuatu yang indah. Namun ternyata tidak ada yang peduli dengan indah tubuhnya, hanya fisiknya yang dinikmati tanpa mempedulikan siapa dia. 

The fiction behind this piece (Ironic#01) is about a mother who gave birth to her daughter, praying that one day she become a good person under the dogma in society. When her daughter grew up, she decided to become a porn model of cheesy tabloid. She thought that her fans enjoy her body as something beautiful. Apparently no one bothered, just an enjoyable flesh regardless of who she is. 

 

Baskom kaleng dan cairan merah merupakan material paling penting dalam performans ini. Baskom kaleng terebut adalah prabot kesayangan nenek saya, sudah dia pakai untuk memasak sejak saya belum lahir. Saya memaknai baskom miliknya sebagai doa panjang dari seorang ibu. Cairan merah bertujuan untuk mencerminkan darah, dimana seorang ibu ketika melahirkan menghabiskan banyak darah, mengorbankan diri untuk kelahiran anaknya. Tadinya saya hendak memakai darah sapi, namun darah sangat cepat membeku. Pilihan lainnya adalah memakai darah manusia yang saya beli di PMI, namun saya merasa tidak layak menggunakannya, siapa tahu ada manusia lain yang membutuhkan darah tersebut untuk melanjutkan hidup. Akhirnya saya membuat ramuan yang cairannya bisa menyerupai darah sebenarnya.

Tin basin and the red fluid is the most important material in this pieces. Tin basin is my grandmother favorite kitchen tools, she's been using it since I was not born yet. I interpret her basin as a mother long prayer. The other material is the red fluid (blood), as a metaphor when a mother lost lot of blood, sacrificing when giving a birth. I was about to use a cattle blood, but it very quick froze. Another option is using human blood, but not feel right, who knows there are other people who need the blood to continue a living. So I use an artificial blood.



Bavf Naf #1 - New Media Festival
Agustus 2002
Rumah Nusantara, Bandung


Oct 10, 2008

BE YOUR SELF #1

scroll down for english..

Perempuan memikirkan penampilannya dan menjaga keindahannya. Perempuan juga mudah sekali tergoda iklan  penambah cantik penampilan. Lahir berkulit hitam di paksa jadi putih, kulit putih di paksa jadi hitam. Oprasi mata, bibir, dan lain-lain. Apapun pasti di usahakan guna pencapaian ini. Sampai ketika bercermin, diri tidak mengenali lagi siapa yang dilihatnya.



Women think about her appearance and maintain its beauty, easily tempted beauty ads. Born black and turn white, as well as white turn black. Eyes surgery, lips, and others. Whatever the risk are, in order to achieve as in the ads. Until not recognize herself anymore, look up the mirror and don't know who she saw.

Parahyangan University & Babakan Siliwangi
2003-2004
West Java, Bandung
Organized by B+PAC